Calm down

Just another WordPress.com weblog

Bank XX kok gitu siiii

Di tengah2 deadline ku g sabar untuk g nulis…sebel..dah bawa surat kuasa, ktp direktur, ktpku, mana maagku kambuh mulai pagi ini, dateng ke bank keperluanku hanya untuk melihat saldo 1 maret 2008. 1 tanggal ajah. mereka dah liat aq kayak aq penipu yang mau ngambil uang kantor. YA MANA BISA WONG HARUS ADA TANDA TANGAN DAN SURAT2 yang lain. ini kan masalah saldo. didekte juga boleh deh biar aq tulis sendiri tapi g usah pake muka g percaya dan yang lebih sebelnya, CS yang satu ikut2 nimbrung trus bilang ke pelanggannya “bentar ya,bu..solanya yg ini ribet” dengan menatapku penuh curiga. Ya Alloh……..tambah lagi pas dicek nomer rekening yang lama tahun 2008 g terdeteksi di komputer mereka. ya ampyuuun ya mana aq tau sampai bisa g terdeteksi. yang pasti ni buku tabungan kan dari kalian mana gue tau…yang bermasalah CS nya ato komputernya si.kl masalah prosedur, ok, kasih tau aja baik2 gimana g sah dengan muka kl gue mau nipu. gue urus deh sampai ke atas. menurut pengalamanku jadi pegawai di bank itu g gampang kok bisa si ada CS kayak beginian.bener2 deh…pingin deh kutarik semua uang pribadiku dari itu bank. pingin deh kubilang “hello,mams..pliz deh this is ur customer. u lose one customer and u can lose 100 in a day.pliz, ngomong baik2 napa”

karena ini untuk pemeriksaan dan aq cuma sekedar membantu membenarkan dengan buat LK nya yh udah kl ditanya aq jawab aja yang sebenarnya…aq makan cilok and cireng aja ah…

April 23, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

R.A. Kartini…

C © updated 02052004
Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
► e-ti
Nama:
Raden Ajeng Kartini
Lahir:
Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal:
Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)

Pendidikan:
E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar
Suami:
Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Prestasi:
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang
Kumpulan surat-surat:
Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Penghormatan:
- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar
Sumber:
- Album Pahlawan Bangsa Cetakan ke 18, penerbit PT Mutiara Sumber Widya
- Wajah-Wajah Nasional cetakan pertama. Karangan: Solichin Salam

Raden Ajeng Kartini (1879-1904)

Pejuang Kemajuan Wanita

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan. ► juka-atur

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

April 21, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Alqur’an yang rusak ato salah cetak

Bagaimana Perlakuan Kita terhadap Al Qur’an yang Rusak atau Salah Cetak?

Oleh: Al Lajnah Ad Daaimah

Soal:
Saya memiliki mushaf Al Qur’an yang lembaran kertasnya terkoyak-koyak, maka apa yang harus aku lakukan? Apakah aku boleh menanamnya dalam tanah atau tidak?

Jawab:
Boleh bagi anda untuk menanamnya di tanah masjid mana saja, dan boleh juga untuk engkau bakar mengikuti perbuatan Utsman Radhiyallahu ‘anhu. (Fatwa no 968)

Ketua: Ibrahim bin Muh.Alu Syaikh
Wakil Ketua: Abdur Razzaaq ‘Afify
Anggota: Abdullah bin Ghodyan

Soal:
Bagaimana cara menjaga terhadap adanya sobekan dari mushaf dan kitab-kitab yang terdapat padanya ayat-ayat Al Qur’an?

Jawab:
Sobekan dari Mushaf Al Qur’an dan kitab-kitab serta kertas-kertas yang terdapat didalamnya ayat-ayat Al Qur’an hendaknya ditanam/diqubur ditempat yang baik yang jauh dari tempat lewatnya manusia, tempat pembuangan sampah / kotoran atau kertas tersebut dibakar dalam rangka menjaga dari penghinaan berdasarkan perbuatan Utsman Radhiyallahu ‘anhu. (Fatwa no 4660)

Dewan Riset dan Penelitian Ilmiyyah dan Fatwa
Ketua: Abdul Aziz in Abdillah bin Baaz
Wakil Ketua: Abdur Razzaaq ‘Afify
Anggota: Abdullah bin Ghadyaan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud

Soal:
Apakah boleh membakar mushaf-mushaf yang rusak atau didapati padanya kesalahan tulis/cetak kemudian menguburkannya?

Jawab:
Apabila telah usang kertas-kertas mushaf dan telah sobek dari kebanyakan bacaannya misalnya atau sudah tidak baik lagi untuk dipergunakan atau rusak karena adanya kesalahan-kesalahan dari kurangnya perhatian orang yang menulisnya atau mencetaknya dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki maka boleh menguburnya tanpa dibakar dulu dan boleh membakarnya kemudian menguburnya ditempat yang jauh dari kotoran-kotoran dan tempat lewatnya kaki-kaki manusia dalam rangka menjaga dari penghinaan dan menjaga Al-Qur’an dari adanya kekaburan/kesamaran atau perubahan atau perbedaan yang disebabkan tersebarnya mushaf yang terdapat adanya kesalahan dalam penulisannya atau cetakannya.

Sungguh telah disebutkan pada bab pengumpulan Al-Qur’an di Shohih Al Bukhari bahwasannya Utsman Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan empat orang pilihan dari qurra’ (para pembaca/penghafal) Al Qur’an dari kalangan para shahabat untuk menulis mushaf dari mushaf yang pernah dikumpulkan atas perintah abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Maka ketika mereka telah menyelesaikan penyusunannya maka Utsman mengirim kepada setiap wilayah mushaf yang mereka telah tulis. Kemudian beliau memerintahkan mushaf-mushaf Al Qur’an yang selain itu untuk dibakar, dan tidak ada seorangpun dari shahabat Radhiyallahu’anhum yang mengingkari hal tersebut, kecuali diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud mengingkarinya akan tetapi yang beliau ingkari adalah membatasi manusia hanya pada mushaf yang dikirim oleh Utsman ke daerah-daerah tersebut, bukan mengingkari perbuatan membakar mushaf (yang tidak dipakai). (Fatwa No. 176)

(Diterjemahkan oleh Ust. Abu Abdillah M.Rifa’i. Dari kitab Fatawa Lajnah Ad Daaimah lilbuhuts al Ilmiyyah wal Ifta’ jilid 4 (Bag. Tafsir) hal 138 -142, sumber: Darussalaf Offline update 1 April 2009)

April 21, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

kena hacking

pagi2 mau update web ni rencananya…but abis ngetik domainnya…muncul tulisan “hacked by XXX” what??? hem…..bukan kenapa2….merepotkan iya…udah laporan bejibun muncul satu lagi ni masalah…dosen dah berusaha tapi karena beliau juga sibuk aq disuruh tanya ke centre nya…wuih, penjelasannya aq ga gitu ngerti….secara anak akuntansi walaupun tahu dikit2 tetep aja blank. akhirnya aq bilang ke yang berwenang di fakultas…dia malah ketawa…hiyaaaaaaa…………emo26

no hACKEd, please………bloody

April 8, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

SIM CARD KU ilang..

ni cerita kemarin waktu aq ngantar temenku nyari kos..di depan sebuah toko, aq lagi nelpon trus ngambil hp yang satu. di selipan hp yang satu ada simcard 3 yang gress dan sim card im3. ni im3 paling penting soalnya udah melebar kemana-mana…g sadar kalo tu 2 simcard jatuh dan aq melenggang kemana-mana, puter2 cari kos…sebelum magrib, anak ibu kos maen ke kamar dan aq baru mau make simcardku yang im3..langsung shock…where is it,cah?????huaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………..akhirnya aq culik anak ibu kos itu yang baru kelas 5 SD untuk nemenin aq…dan wow fantastic….simcard yang im3 masih ada di depan toko tepatnya dipinggir trotoar dan mungkin abis diinjek dan kena ujan..dengan cepat aq ambil dan masukin ke hp. ternyata masih bisa….Alhamdulillah…….pulsa juga masih…tapi yang 3 g ada….beserta pulsanya………..hiks…pelajaran penting…..

April 6, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.